KURSUS LIA YOGYAKARTA : 7 Alasan

KURSUS LIA YOGYAKARTA

Kursus LIA YOGYAKARTA berbeda dengan STBA (Sekolah Tinggi) walaupun sama sama berada dalam naungan YAYASAN LIA. LB LIA Yogyakarta adalah kursus/les/bimbel bahasa Inggris yang memiliki pengalaman kurang lebih selama 29 tahun di Yogyakarta. Keberadaan kursus bahasa Inggris / b Inggris ini berawal dari berdirinya Lembaga Bahasa Inggris Yogyakarta (LBIY) yang mulai beroperasi pada bulan Januari 1990. Saat itu LBIY menempati kawasan strategis Jl. Sabirin No. 6 Kotabaru, Yogyakarta. LBIY dalam waktu tidak lama mampu menjaring kurang lebih 1.700 siswa.

LBIY menempati gedung dengan alamat Jalan Sabirin no. 6, Kotabaru, Yogyakarta selama 3,5 tahun. Kemudian, LBIY menempati alamat baru Jalan Gowongan Kidul no. 50 Yogyakarta pada tanggal 6 Juni 1994. Tidak lama kemudian yaitu pada tanggal 14 Juni 1994, LBIY yang sebelumnya berbentuk Afiliasi berubah menjadi Lembaga Bahasa LIA Cabang Yogyakarta.

Pada awal tahun 2000 kami menempati lokasi baru yang lebih strategis dengan gedung baru berlantai 3 berkapasitas 29 ruang kelas dengan alamat Jl. Jembatan Merah no. 84C Prayan Kulon, Gejayan, Condong catur, Yogyakarta . Seiring dengan berjalannya waktu, LIA Yogyakarta berubah menjadi LBPP LIA untuk mengakomodasi pendidikan profesional.

Sejak tahun 2007 kami menempati sebuah gedung berlantai tiga yang representatif dengan alamat Pandeansari Blok IV/8 Condongcatur, Depok, Sleman 

kursus LIA Yogyakarta

LOKASI KURSUS LIA YOGYAKARTA

Link Pendaftaran silahkan kunjungi https://registration.lia.co.id

Untuk informasi tentang LIA Pusat silakan kunjungi https://lblia.com

Untuk informasi tentang program kursus silakan kunjungi https://liayogyakarta.com/program-kursus-lia/

KONTAK KAMI

CS LIA Pandeansari 1: https://wa.me/6282260862122

CS LIA Pandeansari 2 : https://wa.me/6285799900677

KURSUS BAHASA INGGRIS LIA

KURSUS BAHASA INGGRIS LIA

Kursus bahasa Inggris LIA adalah les bahasa Inggris dengan pengalaman 62 tahun. Banyak yang mempertanyakan apakah beda belajar bahasa Inggris di sekolah formal dan pendidikan non formal seperti kursus bahasa Inggris. Bagaimana pula dengan belajar sendiri secara otodidak?

Artikel berikut ini menguraikan pembelajaran sekolah formal dan non formal. Tentunya, masing masing memiliki sisi positif dan negatif. Bila kita memahami permasalahan pendidikan formal, nantinya kita bisa lebih paham apa yang kita butuhkan.

Mari kita lihat masalah ini dari berbagai sisI

SYARAT IDEAL

Bahasa adalah alat komunikasi. Sedangkan komunikasi adalah proses antara dua pihak atau lebih dalam menyampaikan gagasan. Proses ini bukan proses tunggal namun proses yang melibatkan banyak unsur. Komunikasi yang baik melibatkan unsur fisik, emosi, lingkungan selain bahasa itu sendiri.

Jadi sebaiknya kita mempelajari bahasa secara menyeluruh, bukan terpisah dari proses komunikasi itu sendiri. Artinya, latihan merupakan salah satu kunci untuk melatih bahasa. Ibaratnya pengin bisa renang, cara terbaik adalah dengan berinteraksi dalam air. Naik gunung dapat membantu namun tidak secara langsung karena hanya memperkuat fisik saja. 

Cara paling tepat adalah dengan “immersi”. Dalam kata lain, kita langsung melebur ke lingkungan yang secara optimal mendukung praktek penggunaan bahasa Inggris secara langsung. Bagaimana bentuknya? Yang paling sederhana adalah mencari partner agar dapat berlatih. Bisa berdua, bertiga atau kelompok. Cara belajar di Pare Kediri menggunakan konsep ini. Kendala utama belajar  secara mandiri adalah konsistensi. Cara lain adalah dengan bergabung dengan kursus.  Tentu saja, bila siswa hanya mau “ngomong” sekitar 20-30 menit dari durasi, misal dua jam, maka hasilnya akan sama saja. Sama saja dengan siswa yang ikut kursus tapi menghindari aktif saat belajar kelas. Kalau bisa aman duduk di pojok, menghindari interaksi, banyak mencatat….namun pengin bisa ngomong dengan bahasa Inggris….Pusing kepala gurunya ????

PENDIDIKAN FORMAL

Pada dasarnya, pengajaran bahasa Inggris sekolah formal belum bisa berlangsung secara optimal

  • Tujuan pembelajaran lebih mengarah ke keberhasilan mengerjakan tes. Seyogyanya tes adalah alat ukur pembelajaran. Namun, apa yang terjadi?. Pengajaran sekolah formal mengikuti jenis tes yang akan dihadapi para siswa. Jelas ini sangat jauh panggang dari api. Bagaimana siswa dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris?
  • Jumlah siswa yang besar. Penulis pernah mengajar Reading untuk 70 mahasiswa sebuah universitas dalam satu kelas. Bisa kalian bayangkan bagaimana cara mengajar secara efektif. Untuk mengisi daftar hadir saja bisa 15 menit. Bayangkan pula bila harus mengajar 30 siswa SD kelas 1. Anak anak memiliki rentang konsentrasi yang terbatas-sekarang hanya sekitar 9 detik. Jadi boro boro mengajar bahasa Inggris, membuat siswa diam memperhatikan saja akan membuat sang guru harus mengeluarkan jurus mabuk.

LAINNYA?

  • Kemampuan siswa yang tidak merata. Kemampuan yang heterogen ini mempersulit guru dalam mengatur laju pembelajaran.Jumlah siswa yang besar membuat guru pusing. Ditambah lagi, kemampuan siswa juga berbeda beda.
  • Bagaimana dengan motivasi siswa? Jelas tidak semua siswa menganggap bahasa Inggris perlu  demi masa depan walau mereka sadar bahwa kemampuan bahasa penting. Akhirnya bahasa Inggris menjadi “momok” bagi siswa, mungkin juga bagi pengajarnya!
  • Masing masing sekolah menerima siswa dengan kemampuan berbeda. Ada sekolah yang berisi siswa siswa yang sebelum masuk sekolah pun bahasa Inggrisnya sudah jago. Sebaliknya, sekolah pelosok memiliki siswa yang benar benar “true beginner”.
  • Kemampuan dan ketrampilan guru kadang juga menjadi hambatan. Tidak semua guru bahasa Inggris merupakan lulusan pendidikan bahasa Inggris. Banyak lho guru bahasa Inggris yang tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Bisa karena guru jarang memakai bahasa Inggris untuk komunikasi. Bisa juga karena pengajar mulanya merupakan guru bidang lain yang “dipaksa” menjadi guru bahasa Inggris.
  • Guru mengalami hambatan dalam menerapkan teknik mengajar yang benar. Akibatnya, cara mengajar guru sekolah formal jauh dari “nyaman” buat siswa sebagaimana guru bahasa Inggris lembaga non formal. Siswa banyak belajar tentang teori namun sedikit menggunakan teori tersebut.

Alasan di atas bukan lantas membuat semua siswa sekolah formal sama sekali tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Ada sekolah yang mampu mengatasi persoalan di atas. Satu contoh yang penulis jumpai adalah di sebuah SMP di pelosok. Namun, guru bahasa Inggrisnya memiliki dedikasi yang luar biasa. 

PENDIDIKAN NON FORMAL

Lembaga pendidikan non-formal lahir sebagai upaya menutupi celah pembelajaran bahasa Inggris pendidikan formal. Demikian pula Kursus Bahasa Inggris LIA. Hampir semua faktor penentunya bertolak belakang dengan kondisi sekolah formal. Misal, jumlah siswa per kelas lebih kecil dan siswa yang datang tentunya mereka yang memiliki motivasi dan keinginan untuk menguasai bahasa Inggris yang kuat. Perbedaan lainnya pada ketersediaan fasilitas belajar.

Apapun perbedaannya, yang paling pokok adalah adanya lingkungan yang mendukung upaya belajar bahasa Inggris. Anda bisa belajar otodidak, namun Anda memerlukan lingkungan dengan semua orang memiliki tujuan yang sama. Hal ini akan menguatkan tekad untuk berusaha. Dengan adanya teman berlatih, maka tujuan belajar bahasa Inggris akan lebih cepat tercapai.

Kursus bahasa Inggris LIA :Bagaimana pendapat Anda?

Untuk informasi program program di Kursus Bahasa Inggris LIA, silakan kunjungi https://liayogyakarta.com/program-kursus-lia/

Untuk informasi Kursus bahasa Inggris LIA Pusat, silakan kunjungi  http://www.lia.co.id

Link Pendaftaran silahkan klik https://registration.lia.co.id

KONTAK KAMI

CS LB LIA Pandeansari  1:  https://wa.me/6282260862122

CS LB LIA Pandeansari  2 : https://wa.me/6285799900677