KELAS BAHASA INGGRIS KPC

KELAS BAHASA INGGRIS KPC

PT KPC (Kaltim Prime Coal) merupakan sebuah perusahaan tambang batubara yang berkantor di M1 Building Mine Site Sangatta, Kutai Timur,Kalimantan Timur – Indonesia ( https://kpc.co.id) . Perusahaan ini sudah lama beroperasi dan merupakan salah satu perusahaan tambang yang bonafid. KPC memiliki komitmen yang tinggi terhadap 4,499 karyawannya, utamanya dalam peningkatan mutu SDM. Untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, dibukalah Kelas bahasa Inggris KPC berupa English for Miners.

Program ini berlangsung selama kurang lebih 3 bulan dengan tujuan agar para karyawan dapat meningkatkan kemampuan Speaking, Writing, dan kebutuhan khusus, misalnya “Conducting a meeting’. LB LIA Yogyakarta ditunjuk menjadi vendor pelaksana program tersebut.

“English for Miners” menjadi bukti komitmen LIA Yogyakarta pada “quality learning” dimana tahapan dan proses belajar dilakukan secara sistimatis dan melalui proses monitoring yang ketat. Tidak aneh bila mayoritas siswa menyatakan kepuasan terhadap proses dan hasil belajar. Mereka berharap program ini dapat dilanjutkan pada masa mendatang. 

KELAS BAHASA INGGRIS KPC : FAREWEL

Pada tanggal 15 Januari 2020 diadakan “Virtual Farewel Session” sebagai tanda berakhirnya program dan sebagai wahana untuk mendapatkan evaluasi dan impresi langsung dari siswa. Acara ini berlangsung secara “fun” dan dihadiri mayoritas siswa

kelas bahasa inggris KPC

Untuk informasi tentang Program bahasa Inggris, silakan kunjungi https://liayogyakarta.com/program-kursus-lia/

Kontak kami

CS 1 LB LIA Pandeansari  :https://wa.me/6282260862122

CS 2 LB LIA Pandeansari  : https://wa.me/6285799900677

TAHUN BARU 2022

TAHUN BARU 2022

Tahun 2021 segera berlalu. Kita patut bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala kemudahan, perlindungan, kesehatan, dan segala berkah_NYA sehingga kita bisa menapak pada titik titik waktu 2021 sampai menjelang akhir tahun. Betapa besar Berkah dan rahmat yang telah menaungi bangsa Indonesia sehingga kita mampu berdamai dengan pandemi Corona Covid 19. Bagaimana dengan Tahun Baru 2022?

Mari senantiasa berdoa bahwa dalam semua yang kita jalani merupakan kehendak-NYA. ” When we are down to nothing, God is up to something”. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

SELAMAT TAHUN BARU 2022 

Untuk informasi  KELAS MULAI  https://liayogyakarta.com/les-bahasa-inggris-lia/

Info BIAYA KURSUS https://liayogyakarta.com/diskon-biaya-kursus/

Silakan juga akses di linktr.ee https://linktr.ee/liayogyakarta

Kontak kami

CS 1 LB LIA Pandeansari  :https://wa.me/6282260862122

CS 2 LB LIA Pandeansari  : https://wa.me/6285799900677

LIA NiCE

LIA NiCE

LIA NiCE merupakan singkatan dari “LIA Nine Core Elements”. Moto LIA NiCE ini  menggambarkan prinsip prinsip dasar pembelajaran LIA yang bersifat unik LIA dan mencerminkan komitmen pada prinsip prinsip pengajaran.

1.ADAPTABILITY TO CHANGE

Para ahli mengatakan bahwa yang abadi dalam hidup ini adalah “perubahan”. Perubahan adalah sesuatu yang selalu ada dalam kehidupan kita. Semua selalu berubah. Mau tidak mau dan siap tidak siap kita akan menghadapi perubahan. LIA dan siswa juga harus dapat menyikapi setiap perubahan dengan bijak. Datangnya pandemi Corona Covid-19 bukan semata mata sebuah musibah. Pasti ada sesuatu yang berharga dalam musibah ini. Dalam waktu singkat LIA mengambil sikap dengan memilih pembelajaran online agar tetap dapat melayani siswa. Para siswa juga harus memiliki ketrampilan menghadapi perubahan ini. Pembelajaran dengan flipped learning akan membiasakan siswa untuk belajar mandiri. Pembelajaran dengan media tatap muka online secara synchronous menjadi media belajar siswa untuk berkomunikasi secara online. Para siswa diajarkan untuk menghadapi perubahan besar dan menyikapi perubahan sekecil apapun dalam langkah langkah hidupnya.

2. 6 Cs

nak anak berada pada titik waktu yang berbeda dengan orang tua. Memasuki abad ke 21, mau tidak mau dunia pendidikan harus menyesuaikan segala sesuatunya agar para siswa berkembang secara optimal. Prinsip “6 Cs merupakan pengembangan dari “4 C” atau yang disebut “the 21 st century skills”. Filosofi ini sudah mendarah daging dalam lingkungan LIA. Para siswa berlatih untuk mengembangkan “Communication, Collaboration, Critical Thinking, dan Creativity”. LIA menambahkan dua prinsip “Choice” dan “Care” sebagai wujud pengembangan manusia secara holistik. Dengan demikian, para siswa harus mampu menjadi insan yang dapat menentukan pilihan dan peduli dengan dirinya dan lingkungannya.

3. FLIPPED LEARNING

“Flipped learning” adalah sebuah komitmen untuk membantu para siswa agar mampu belajar mandiri. Bila pada awalnya para siswa menggantungkan proses belajar HANYA dari proses pengajaran di kelas, dalam prinsip ini dibalik(flipped). Siswa harus bertanggung jawab terhadap proses belajarnya dengan mempelajari materi yang sebelum mengikuti sesi kelas. Apa implikasinya? Sesi kelas mendapat alokasi waktu lebih untuk hal hal yang bersifat “praktek”. Para siswa juga memiliki ketrampilan untuk mencari sendiri apa yang mereka butuhkan tanpa menggantungkan pada guru. Pada akhirnya siswa memiliki sifat kritis terhadap materi pembelajaran.

4. STUDENT-CENTERED MATERIALS

Berbeda dengan lembaga lain, LIA membuat materi pembelajaran sendiri (Departemen Materi) sehingga LIA dapat menyesuaikan materi dengan prinsip pembelajaran yang optimal. Dalam hal ini, konsep “meta language”(hal hal yang sesuai dan dipahami sebelumnya) memainkan peran penting. Dalam belajar, tidak cukup memahami “how to say” bila kesulitan menemukan “what to say”. Selain itu, materi juga mengarahkan siswa untuk berkolaborasi dan dan selalu mengadakan interaksi dengan siswa lainnya bukan terpusat pada guru yang menerangkan. Dengan demikian, siswa mendapatkan pembelajaran yang optimal.

5. DIFFERENTIATED INSTRUCTIONS

Walaupun para siswa sudah masuk level yang sesuai dengan kemampuan bahasa Inggrisnya, kami menyadari bahwa tidak ada individu yang seragam dengan yang lainnya. Setiap individu bersifat UNIK. Keunikan ini adalah anugerah. Kita harus menghargainya sebagai sebuah kekhasan individu. Guru melakukannya dengan memberi instruksi berbeda (differentiated instuctions) kepada para siswa. Hal ini untuk mendukung fakta bahwa laju pembelajaran, sifat, dan cara belajar masing masing siswa berbeda. Pada akhirnya, para siswa dapat berkolaborasi dan saling menguntungkan. Misalnya, masing masing siswa mendapat tugas yang berbeda, siswa bergiliran menjadi pemimpin kelompok, atau siswa mendapat peran yang tidak sama dalam permainan peran (role play).

6. AUTONOMOUS LEARNERS

Belajar bahasa Inggris tidak semata mata memerlukan kemampuan akademis. Sikap ternyata sangat besar pengaruhnya. Oleh karena itu, LIA tidak terpaku pada “mengajar” namun aktif “mendidik”. Selain kedisiplinan, keuletan, assertive, salah satu sikap mendasar yang harus dikembangkan adalah “kemandirian”. Artinya siswa harus memiliki motivasi “intrinsik”(dari dalam diri) ketika belajar. Waktu belajar di LIA sangat terbatas. Siswa masih perlu belajar secara mandiri di luar kelas (autonomous).

7. Personalized Instructions

Cara lain untuk mengembangkan keunikan siswa adalah dengan memberi “personalized instructions”. Dalam hal ini, materi pembelajaran tidak jauh dari kehidupan siswa dan “background knowledge” siswa. Dengan demikian, siswa merasakan bahwa bahan belajar menarik dan penting untuk hidupnya.

8.FIESTA

FIESTA merupakan perwujudan dari komitmen LIA dalam menyediakan guru yang berkualitas. Sudah bukan jamannya lagi seorang guru menjadi seorang pendidik yang mendominasi, sibuk menerangkan, menjaga jarak dari siswa, selalu memberi tugas….atau mencari kredibiltas dengan membuat hal mudah menjadi sulit.

FIESTA merupakan elemen LIA NiCE yang menggambarkan ciri khas guru LIA :

  • Fun and Friendly. Guru LIA harus menyenangkan saat mengajar di kelas. Tentunya, guru harus mempu mencairkan suasana. Dia merupakan fasilitator dan teman bagi siswa dan mampu memilah milah kapan sebuah kegiatan harus serius dan kapan siswa memerlukan “filler” yang menyenangkan. Menyenangkan disini tidak boleh meniadakan terjadinya “pembelajaran”
  • Interactive. Guru LIA selalu berupaya menghadirkan interaksi antara guru-siswa atau siswa-siswa. Interaksi menjadi kata kunci karena bahasa adalah alat untuk komunikasi.
  • Explorative. Guru LIA mau mengembangkan diri dan proses pembelajaran baik melalui “coaching & mentoring” oleh Academic Supervisor , sharing program, pelatihan & training atau secara mandiri
  • Systematic. Sistim pengajaran  LIA harus memenuhi kaidah yang baku sehingga guru harus memenuhi tahapan tahapan dalam rencana pengajaran.
  • Technology Savvy. Guru LIA harus membiasakan diri dengan teknologi.
  • Autonomous & Independent. Guru LIA harus mandiri dalam bersikap dan mengembangkan diri

9.  3-Learning-Feature

LIA sdh lama menerapkan “3 learning features sebagai pijakan proses pembelajaran, yaitu:

  • Learning is FUN. Proses belajar harus dapat menimbulkan rasa senang. Siswa bukan semata mata mementingkan prestasi akademis. Jadi, siswa akan memiliki motivasi tinggi untuk belajar.
  • Learning MORE than English. Sambil belajar bahasa Inggris para siswa dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk belajar tentang “knowledge of the world”. Pengetahuan ini penting untuk membekali para siswa dalam menghadapi kehidupan.
  • Learning HOW to learn. Proses pembelajaran seharusnya menjadikan sesuatu yang rumit menjadi sederhana bukan sebaliknya. Oleh karena itu, salah satu yang mendasar adalah kesadaran bahwa kesalahan merupakan salah satu tahapan dalam belajar. Dari kesalahan grammar misalnya, pada akhirnya siswa harus bisa mengembangkan “grammar awareness”(sensor terhadap kesalahan grammar). Alhasil, siswa tidak hanya mengandalkan pada guru.

Semoga LIA NicE mampu menjawab tantangan dunia pengajaran menghadapi generasi milenial.

KONTAK KAMI

CS LIA Pandeansari 1: https://wa.me/6282260862122

CS LIA Pandeansari 2 : https://wa.me/6285799900677

LIA YOGYAKARTA KURSUS

LIA YOGYAKARTA KURSUS

LIA YOGYAKARTA KURSUS berbeda dengan STBA (Sekolah Tinggi) walaupun sama sama berada dalam naungan YAYASAN LIA. LB LIA Yogyakarta adalah kursus bahasa Inggris yang memiliki pengalaman kurang lebih selama 29 tahun di Yogyakarta. Keberadaan kursus ini berawal dari berdirinya Lembaga Bahasa Inggris Yogyakarta (LBIY) yang mulai beroperasi pada bulan Januari 1990. Saat itu LBIY menempati kawasan strategis Jl. Sabirin No. 6 Kotabaru, Yogyakarta. LBIY dalam waktu tidak lama mampu menjaring kurang lebih 1.700 siswa.

BIY menempati gedung dengan alamat Jalan Sabirin no. 6, Kotabaru, Yogyakarta selama 3,5 tahun. Kemudian, LBIY menempati alamat baru Jalan Gowongan Kidul no. 50 Yogyakarta pada tanggal 6 Juni 1994. Tidak lama kemudian yaitu pada tanggal 14 Juni 1994, LBIY yang sebelumnya berbentuk Afiliasi berubah menjadi Lembaga Bahasa LIA Cabang Yogyakarta.

ada awal tahun 2000 kami menempati lokasi baru yang lebih strategis dengan gedung baru berlantai 3 berkapasitas 29 ruang kelas dengan alamat Jl. Jembatan Merah no. 84C Prayan Kulon, Gejayan, Condong catur, Yogyakarta . Seiring dengan berjalannya waktu, LIA Yogyakarta berubah menjadi LBPP LIA untuk mengakomodasi pendidikan profesional.

Sejak tahun 2007 kami menempati sebuah gedung berlantai tiga yang representatif dengan alamat Pandeansari Blok IV/8 Condongcatur, Depok, Sleman 

LOKASI LIA YOGYAKARTA

Link  https://goo.gl/maps/RcHwsfkiVzx4xf1B9

Untuk informasi tentang LIA Pusat silakan kunjungi https://lblia.com

Untuk informasi tentang program kursus silakan kunjungi https://liayogyakarta.com/program-kursus-lia/

KONTAK KAMI

CS LIA Pandeansari 1: https://wa.me/6282260862122

CS LIA Pandeansari 2 : https://wa.me/6285799900677

Kursus bahasa Inggris LIA

KURSUS BAHASA INGGRIS LIA?

Kursus bahasa Inggris LIA adalah les bahasa Inggris dengan pengalaman 62 tahun. Banyak yang mempertanyakan apakah beda belajar bahasa Inggris di sekolah formal dan pendidikan non formal seperti kursus bahasa Inggris. Bagaimana pula dengan belajar sendiri secara otodidak?

Artikel berikut ini menguraikan pembelajaran sekolah formal dan non formal. Tentunya, masing masing memiliki sisi positif dan negatif. Bila kita memahami permasalahan pendidikan formal, nantinya kita bisa lebih paham apa yang kita butuhkan.

Mari kita lihat masalah ini dari berbagai sisI

SYARAT IDEAL

Bahasa adalah alat komunikasi. Sedangkan komunikasi adalah proses antara dua pihak atau lebih dalam menyampaikan gagasan. Proses ini bukan proses tunggal namun proses yang melibatkan banyak unsur. Komunikasi yang baik melibatkan unsur fisik, emosi, lingkungan selain bahasa itu sendiri.

Jadi sebaiknya kita mempelajari bahasa secara menyeluruh, bukan terpisah dari proses komunikasi itu sendiri. Artinya, latihan merupakan salah satu kunci untuk melatih bahasa. Ibaratnya pengin bisa renang, cara terbaik adalah dengan berinteraksi dalam air. Naik gunung dapat membantu namun tidak secara langsung karena hanya memperkuat fisik saja. 

Cara paling tepat adalah dengan “immersi”. Dalam kata lain, kita langsung melebur ke lingkungan yang secara optimal mendukung praktek penggunaan bahasa Inggris secara langsung. Bagaimana bentuknya? Yang paling sederhana adalah mencari partner agar dapat berlatih. Bisa berdua, bertiga atau kelompok. Cara belajar di Pare Kediri menggunakan konsep ini. Kendala utama belajar  secara mandiri adalah konsistensi. Cara lain adalah dengan bergabung dengan kursus.  Tentu saja, bila siswa hanya mau “ngomong” sekitar 20-30 menit dari durasi, misal dua jam, maka hasilnya akan sama saja. Sama saja dengan siswa yang ikut kursus tapi menghindari aktif saat belajar kelas. Kalau bisa aman duduk di pojok, menghindari interaksi, banyak mencatat….namun pengin bisa ngomong dengan bahasa Inggris….Pusing kepala gurunya ????

PENDIDIKAN FORMAL

Pada dasarnya, pengajaran bahasa Inggris sekolah formal belum bisa berlangsung secara optimal

  • Tujuan pembelajaran lebih mengarah ke keberhasilan mengerjakan tes. Seyogyanya tes adalah alat ukur pembelajaran. Namun, apa yang terjadi?. Pengajaran sekolah formal mengikuti jenis tes yang akan dihadapi para siswa. Jelas ini sangat jauh panggang dari api. Bagaimana siswa dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris?
  • Jumlah siswa yang besar. Penulis pernah mengajar Reading untuk 70 mahasiswa sebuah universitas dalam satu kelas. Bisa kalian bayangkan bagaimana cara mengajar secara efektif. Untuk mengisi daftar hadir saja bisa 15 menit. Bayangkan pula bila harus mengajar 30 siswa SD kelas 1. Anak anak memiliki rentang konsentrasi yang terbatas-sekarang hanya sekitar 9 detik. Jadi boro boro mengajar bahasa Inggris, membuat siswa diam memperhatikan saja akan membuat sang guru harus mengeluarkan jurus mabuk.

LAINNYA?

  • Kemampuan siswa yang tidak merata. Kemampuan yang heterogen ini mempersulit guru dalam mengatur laju pembelajaran.Jumlah siswa yang besar membuat guru pusing. Ditambah lagi, kemampuan siswa juga berbeda beda.
  • Bagaimana dengan motivasi siswa? Jelas tidak semua siswa menganggap bahasa Inggris perlu  demi masa depan walau mereka sadar bahwa kemampuan bahasa penting. Akhirnya bahasa Inggris menjadi “momok” bagi siswa, mungkin juga bagi pengajarnya!
  • Masing masing sekolah menerima siswa dengan kemampuan berbeda. Ada sekolah yang berisi siswa siswa yang sebelum masuk sekolah pun bahasa Inggrisnya sudah jago. Sebaliknya, sekolah pelosok memiliki siswa yang benar benar “true beginner”.
  • Kemampuan dan ketrampilan guru kadang juga menjadi hambatan. Tidak semua guru bahasa Inggris merupakan lulusan pendidikan bahasa Inggris. Banyak lho guru bahasa Inggris yang tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Bisa karena guru jarang memakai bahasa Inggris untuk komunikasi. Bisa juga karena pengajar mulanya merupakan guru bidang lain yang “dipaksa” menjadi guru bahasa Inggris.
  • Guru mengalami hambatan dalam menerapkan teknik mengajar yang benar. Akibatnya, cara mengajar guru sekolah formal jauh dari “nyaman” buat siswa sebagaimana guru bahasa Inggris lembaga non formal. Siswa banyak belajar tentang teori namun sedikit menggunakan teori tersebut.

Alasan di atas bukan lantas membuat semua siswa sekolah formal sama sekali tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Ada sekolah yang mampu mengatasi persoalan di atas. Satu contoh yang penulis jumpai adalah di sebuah SMP di pelosok. Namun, guru bahasa Inggrisnya memiliki dedikasi yang luar biasa. 

PENDIDIKAN NON FORMAL

Lembaga pendidikan non-formal lahir sebagai upaya menutupi celah pembelajaran bahasa Inggris pendidikan formal. Demikian pula Kursus Bahasa Inggris LIA. Hampir semua faktor penentunya bertolak belakang dengan kondisi sekolah formal. Misal, jumlah siswa per kelas lebih kecil dan siswa yang datang tentunya mereka yang memiliki motivasi dan keinginan untuk menguasai bahasa Inggris yang kuat. Perbedaan lainnya pada ketersediaan fasilitas belajar.

Apapun perbedaannya, yang paling pokok adalah adanya lingkungan yang mendukung upaya belajar bahasa Inggris. Anda bisa belajar otodidak, namun Anda memerlukan lingkungan dengan semua orang memiliki tujuan yang sama. Hal ini akan menguatkan tekad untuk berusaha. Dengan adanya teman berlatih, maka tujuan belajar bahasa Inggris akan lebih cepat tercapai.

Kursus bahasa Inggris LIA :Bagaimana pendapat Anda?

Untuk informasi program program yang kami tawarkan, silakan kunjungi https://liayogyakarta.com/program-kursus-lia/

Untuk informasi Kursus bahasa Inggris LIA Pusat, silakan kunjungi  http://www.lia.co.id

KONTAK KAMI

CS LB LIA Pandeansari  1:  https://wa.me/6282260862122

CS LB LIA Pandeansari  2 : https://wa.me/6285799900677