LIA NiCE

LIA NiCE

LIA NiCE merupakan singkatan dari “LIA Nine Core Elements”. Moto LIA NiCE ini  menggambarkan prinsip prinsip dasar pembelajaran LIA yang bersifat unik LIA dan mencerminkan komitmen pada prinsip prinsip pengajaran.

1. ADAPTABILITY TO CHANGE

 

Para ahli mengatakan bahwa yang abadi dalam hidup ini adalah “perubahan”. Perubahan adalah sesuatu yang selalu ada dalam kehidupan kita. Semua selalu berubah. Mau tidak mau dan siap tidak siap kita akan menghadapi perubahan. LIA dan siswa juga harus dapat menyikapi setiap perubahan dengan bijak. Datangnya pandemi Corona Covid-19 bukan semata mata sebuah musibah. Pasti ada sesuatu yang berharga dalam musibah ini. Dalam waktu singkat LIA mengambil sikap dengan memilih pembelajaran online agar tetap dapat melayani siswa. Para siswa juga harus memiliki ketrampilan menghadapi perubahan ini. Pembelajaran dengan flipped learning akan membiasakan siswa untuk belajar mandiri. Pembelajaran dengan media tatap muka online secara synchronous menjadi media belajar siswa untuk berkomunikasi secara online. Para siswa diajarkan untuk menghadapi perubahan besar dan menyikapi perubahan sekecil apapun dalam langkah langkah hidupnya.

2. 6 Cs

lia nice-two

Anak anak berada pada titik waktu yang berbeda dengan orang tua. Memasuki abad ke 21, mau tidak mau dunia pendidikan harus menyesuaikan segala sesuatunya agar para siswa berkembang secara optimal. Prinsip “6 Cs merupakan pengembangan dari “4 C” atau yang disebut “the 21 st century skills”. Filosofi ini sudah mendarah daging dalam lingkungan LIA. Para siswa berlatih untuk mengembangkan “Communication, Collaboration, Critical Thinking, dan Creativity”. LIA menambahkan dua prinsip “Choice” dan “Care” sebagai wujud pengembangan manusia secara holistik. Dengan demikian, para siswa harus mampu menjadi insan yang dapat menentukan pilihan dan peduli dengan dirinya dan lingkungannya.

3. FLIPPED LEARNING

lia-nice-three

“Flipped learning” adalah sebuah komitmen untuk membantu para siswa agar mampu belajar mandiri. Bila pada awalnya para siswa menggantungkan proses belajar HANYA dari proses pengajaran di kelas, dalam prinsip ini dibalik(flipped). Siswa harus bertanggung jawab terhadap proses belajarnya dengan mempelajari materi yang  sebelum mengikuti sesi kelas. Apa implikasinya? Sesi kelas mendapat alokasi waktu lebih untuk hal hal yang bersifat “praktek”. Para siswa juga memiliki ketrampilan untuk mencari sendiri apa yang mereka butuhkan tanpa menggantungkan pada guru. Pada akhirnya siswa memiliki sifat kritis terhadap materi pembelajaran.

4. STUDENT-CENTERED MATERIALS

lia-nice-four

Berbeda dengan lembaga lain, LIA membuat materi pembelajaran sendiri (Departemen Materi) sehingga LIA dapat menyesuaikan materi  dengan prinsip pembelajaran yang optimal. Dalam hal ini, konsep “meta language”(hal hal yang sesuai dan dipahami sebelumnya) memainkan peran penting. Dalam belajar, tidak cukup memahami “how to say” bila kesulitan menemukan “what to say”. Selain itu, materi juga mengarahkan siswa untuk berkolaborasi dan dan selalu mengadakan interaksi dengan siswa lainnya bukan terpusat pada guru yang menerangkan. Dengan demikian,  siswa mendapatkan pembelajaran yang optimal.

5. DIFFERENTIATED INSTRUCTIONS

lia nice-five

Walaupun para siswa sudah masuk level yang sesuai dengan kemampuan bahasa Inggrisnya, kami menyadari bahwa tidak ada individu yang seragam dengan yang lainnya. Setiap individu bersifat UNIK. Keunikan ini adalah anugerah. Kita harus menghargainya sebagai sebuah kekhasan individu. Guru melakukannya dengan memberi instruksi berbeda (differentiated instuctions) kepada para siswa. Hal ini untuk mendukung fakta bahwa laju pembelajaran, sifat, dan cara belajar masing masing siswa berbeda. Pada akhirnya, para siswa dapat berkolaborasi dan saling menguntungkan. Misalnya, masing masing siswa mendapat tugas yang berbeda, siswa bergiliran menjadi pemimpin kelompok, atau siswa mendapat peran yang tidak sama dalam permainan peran (role play).

6. AUTONOMOUS LEARNERS

lia nice-six

Belajar bahasa Inggris tidak semata mata memerlukan kemampuan akademis. Sikap ternyata sangat besar pengaruhnya. Oleh karena itu, LIA tidak terpaku pada “mengajar” namun aktif “mendidik”. Selain kedisiplinan, keuletan, assertive, salah satu sikap mendasar yang harus dikembangkan adalah “kemandirian”. Artinya siswa harus memiliki motivasi “intrinsik”(dari dalam diri) ketika belajar. Waktu belajar di LIA sangat terbatas. Siswa masih perlu belajar secara mandiri di luar kelas (autonomous).

7. Personalized Instructions

lia nice-seven

Cara lain untuk mengembangkan keunikan siswa adalah dengan memberi “personalized instructions”. Dalam hal ini, materi pembelajaran tidak jauh dari kehidupan siswa dan “background knowledge” siswa. Dengan demikian, siswa merasakan bahwa bahan belajar menarik dan penting untuk hidupnya.

8.FIESTA

lia nice-eight

FIESTA merupakan perwujudan dari komitmen LIA dalam menyediakan guru yang berkualitas. Sudah bukan jamannya lagi seorang  guru menjadi seorang pendidik yang mendominasi, sibuk menerangkan, menjaga jarak dari siswa, selalu memberi tugas….atau mencari kredibiltas dengan membuat hal mudah menjadi sulit. 

FIESTA menggambarkan ciri khas guru LIA :

  • Fun and Friendly. Guru LIA harus menyenangkan saat mengajar di kelas. Tentunya, guru harus mempu mencairkan suasana. Dia merupakan fasilitator dan teman bagi siswa dan mampu memilah milah kapan sebuah kegiatan harus serius dan kapan siswa memerlukan “filler” yang menyenangkan. Menyenangkan disini tidak boleh meniadakan terjadinya “pembelajaran”
  • Interactive. Guru LIA selalu berupaya menghadirkan interaksi antara guru-siswa atau siswa-siswa. Interaksi menjadi kata kunci karena bahasa adalah alat untuk komunikasi.
  • Explorative. Guru LIA mau mengembangkan diri dan proses pembelajaran baik melalui “coaching & mentoring” oleh Academic Supervisor , sharing program, pelatihan & training atau secara mandiri
  • Systematic. Sistim pengajaran  LIA harus memenuhi kaidah yang baku sehingga guru harus memenuhi tahapan tahapan dalam rencana pengajaran.
  • Technology Savvy. Guru LIA harus membiasakan diri dengan teknologi.
  • Autonomous & Independent. Guru LIA harus mandiri dalam bersikap dan mengembangkan diri
9.  3-Learning-Feature

lia nice-nine

LIA sdh lama menerapkan “3 learning features sebagai pijakan proses pembelajaran, yaitu:

  • Learning is FUN. Proses belajar harus dapat menimbulkan rasa senang. Siswa bukan semata mata mementingkan prestasi akademis. Jadi, siswa akan memiliki motivasi tinggi untuk belajar.
  • Learning MORE than English. Sambil belajar bahasa Inggris para siswa dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk belajar tentang “knowledge of the world”. Pengetahuan ini penting untuk membekali para siswa dalam menghadapi kehidupan.
  • Learning HOW to learn. Proses pembelajaran seharusnya menjadikan sesuatu yang rumit menjadi sederhana bukan sebaliknya. Oleh karena itu, salah satu yang mendasar adalah kesadaran bahwa kesalahan merupakan salah satu tahapan dalam belajar. Dari kesalahan grammar misalnya, pada akhirnya siswa harus bisa mengembangkan “grammar awareness”(sensor terhadap kesalahan grammar). Alhasil, siswa tidak hanya mengandalkan pada guru.

Semoga LIA NicE mampu menjawab tantangan dunia pengajaran menghadapi generasi milenial.