Mengapa Belajar bahasa Inggris

Mengapa belajar bahasa Inggris di formal dan non-formal beda ?

Mengapa belajar bahasa Inggris pendidikan formal dan non-formal beda? Semoga artikel ini dapat memberi sudut pandang yang berbeda tentang kesamaan dan perbedaannya.

Syarat ideal

Bahasa adalah alat komunikasi. Sedangkan komunikasi adalah proses antara dua pihak atau lebih dalam menyampaikan gagasan. Proses ini bukan proses tunggal namun proses yang melibatkan banyak unsur. Komunikasi yang baik melibatkan unsur fisik, emosi, lingkungan selain bahasa itu sendiri.

Jadi sebaiknya kita mempelajari bahasa secara menyeluruh, bukan terpisah dari proses komunikasi itu sendiri. Artinya, latihan merupakan salah satu kunci untuk melatih bahasa. Ibaratnya pengin bisa renang, cara terbaik adalah dengan berinteraksi dalam air. Naik gunung dapat membantu namun tidak secara langsung karena hanya memperkuat fisik saja. 

Cara paling tepat adalah dengan “immersi”. Dalam kata lain, kita langsung melebur ke lingkungan yang secara optimal mendukung praktek penggunaan bahasa Inggris secara langsung. Bagaimana bentuknya? Yang paling sederhana adalah mencari partner agar dapat berlatih. Bisa berdua, bertiga atau kelompok. Cara belajar di Pare Kediri menggunakan konsep ini. Kendala utama belajar  secara mandiri adalah konsistensi. Cara lain adalah dengan bergabung dengan kursus.  Tentu saja, bila siswa hanya mau “ngomong” sekitar 20-30 menit dari durasi, misal dua jam, maka hasilnya akan sama saja. Sama saja dengan siswa yang ikut kursus tapi menghindari aktif saat belajar kelas. Kalau bisa aman duduk di pojok, menghindari interaksi, banyak mencatat….namun pengin bisa ngomong dengan bahasa Inggris….Pusing kepala gurunya ????

Pendidikan formal

Pada dasarnya, pengajaran bahasa Inggris sekolah formal belum bisa berlangsung secara optimal

  1. Tujuan pembelajaran lebih mengarah ke keberhasilan mengerjakan tes. Seyogyanya tes adalah alat ukur pembelajaran. Namun, apa yang terjadi?. Pengajaran sekolah formal mengikuti jenis tes yang akan dihadapi para siswa. Jelas ini sangat jauh panggang dari api. Bagaimana siswa dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris?
  2. Jumlah siswa yang besar. Penulis pernah mengajar Reading untuk 70 mahasiswa sebuah universitas dalam satu kelas. Bisa kalian bayangkan bagaimana cara mengajar secara efektif. Untuk mengisi daftar hadir saja bisa 15 menit. Bayangkan pula bila harus mengajar 30 siswa SD  kelas 1. Anak anak memiliki rentang konsentrasi yang terbatas-sekarang hanya sekitar 9 detik. Jadi boro boro mengajar bahasa Inggris, membuat siswa diam memperhatikan saja akan membuat sang guru harus mengeluarkan jurus mabuk. 
Lainnya?
  1. Kemampuan siswa yang tidak merata. Kemampuan yang heterogen ini mempersulit guru dalam mengatur laju pembelajaran.Jumlah siswa yang besar membuat guru pusing. Ditambah lagi, kemampuan siswa juga berbeda beda.
  2. Bagaimana dengan motivasi siswa? Jelas tidak semua siswa menganggap bahasa Inggris perlu  demi masa depan walau mereka sadar bahwa kemampuan bahasa penting. Akhirnya bahasa Inggris menjadi “momok” bagi siswa, mungkin juga bagi pengajarnya!
  3. Masing masing sekolah menerima siswa dengan kemampuan berbeda. Ada sekolah yang berisi siswa siswa yang sebelum masuk sekolah pun bahasa Inggrisnya sudah jago. Sebaliknya, sekolah pelosok memiliki siswa yang benar benar “true beginner”.
  4. Kemampuan dan ketrampilan guru kadang juga menjadi hambatan. Tidak semua guru bahasa Inggris merupakan lulusan pendidikan bahasa Inggris. Banyak lho guru bahasa Inggris yang tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Bisa karena guru jarang memakai bahasa Inggris untuk komunikasi. Bisa juga karena pengajar mulanya merupakan guru bidang lain yang “dipaksa” menjadi guru bahasa Inggris.
  5. Guru mengalami hambatan dalam menerapkan teknik mengajar yang benar. Akibatnya, cara mengajar guru sekolah formal jauh dari “nyaman” buat siswa sebagaimana guru bahasa Inggris lembaga non formal. Siswa banyak belajar tentang teori namun sedikit menggunakan teori tersebut.

Alasan di atas bukan lantas membuat semua siswa sekolah formal sama sekali tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Ada sekolah yang mampu mengatasi persoalan di atas. Satu contoh yang penulis jumpai adalah di sebuah SMP di pelosok. Namun, guru bahasa Inggrisnya memiliki dedikasi yang luar biasa. 

Pendidikan non-formal

Lembaga pendidikan non-formal lahir sebagai upaya menutupi celah pembelajaran bahasa Inggris pendidikan formal. Hampir semua faktor penentunya bertolak belakang dengan kondisi sekolah formal. Misal, jumlah siswa per kelas lebih kecil dan siswa yang datang tentunya mereka yang memiliki motivasi dan keinginan untuk menguasai bahasa Inggrisyang kuat. Perbedaan lainnya pada ketersediaan fasilitas belajar. 

Apapun perbedaannya, yang paling pokok adalah adanya lingkungan yang mendukung upaya belajar bahasa Inggris. Anda bisa belajar otodidak, namun Anda memerlukan lingkungan dengan semua orang memiliki tujuan yang sama. Hal ini akan menguatkan tekad untuk berusaha. Dengan adanya teman berlatih, maka tujuan belajar bahasa Inggris akan lebih cepat tercapai.

Bagaimana pendapat Anda?

Untuk informasi program, silakan kunjungi https://liayogyakarta.com/category/program-kursus/

Untuk informasi LIA Pusat, silakan kunjungi http://www.lia.co.id